Kota Palu

Walikota Palu Lepas Satgas Pamrahwan ke Maluku

Palu, Satusulteng.com – Wali Kota Palu, Hidayat melepas 500 personel TNI AD dari Yonif 711/Raksatama untuk melaksanakan operasi Pengamanan Daerah Rawan (Pamrahwan) di wilayah Maluku dan Maluku Utara.

“Tetap waspada dan selalu berhati-hati di daerah penugasan serta sampaikan salam dari warga dan pemerintah Kota Palu buat masyarakat Maluku,” pesan Hidayat di Dermaga TNI Angkatan Laut (Lanal) Palu, di Kelurahan Watusampu, Senin.

Hidayat juga menyampaikan selamat atas kepercayaan negara yang diberikan kepada Yonif 711/Raksatama untuk melaksanakan tugas tersebut.

“Tak lupa kami bersama masyarakat Kota Palu mendoakan prajurit agar selamat dan berhasil dalam menjalankan tugas,” kata Hidayat.

Usai memberi sambutan, Hidayat melepas pasukan dengan memasangkan topi adat “Siga” berwarna merah kepada Komandan Yonif 711/Raksatama, Letkol Inf Fanny Pantouw.

Usai pemasangan Siga, proses pelepasan dilanjutkan dengan sujud syukur seluruh pasukan yang akan menunaikan tugas.

Ratusan pasukan pengamanan itu diangkut dengan menggunakan KRI Teluk Bintuni. Proses pemberangkatan berlangsung haru diiringi tangis keluarga pasukan pengamanan itu.

Sebelumnya, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIII/Merdeka Mayjen TNI Madsuni mengatakan penugasan itu akan berlangsung selama lebih kurang sembilan bulan atau 270 hari.

“Kepercayaan itu harus dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan sebaik-baiknya, penuh semangat dan kesungguhan serta dilandasi sikap disiplin yang tinggi. Setiap Komandan dalam Satgas memiliki wewenang dan tanggung jawab yang besar, olehnya harus dapat memimpin dan membawa anggotanya dengan baik, agar pada pelaksanaannya dapat memimpin dan melaksanakan tugas dengan baik pula,” katanya.

Pangdam menyampaikan wilayah Maluku dan Maluku Utara juga dilalui jalur Alki III, yang tentunya memiliki potensi kerawanan tersendiri yang harus diwaspadai. Apalagi jalur tersebut terkenal kaya dengan sumber daya alam berlimpah, salah satunya ikan.

Selain itu, konflik horizontal di Maluku dan Maluku Utara pada periode tahun 1999-2004 masih menyisakan beberapa kerawanan, antara lain berupa munculnya kelompok-kelompok radikal, baik kiri maupun kanan serta kelompok radikal lainnya.

satusulteng
the authorsatusulteng