Penghitungan Nilai Kerugian Bencana Palu Terkendala Data Bangunan

Palu, Satusulteng.com – Hingga saat ini Pemerintah Kota Palu belum bisa merekapitulasi niali kerugian materil akibat bencana gempa, tsunami dan likuifaksi (yang melanda kota ini pada 28 September 2018.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palu Presly Tampubolon mengatakan di Palu, Minggu, pihaknya dibantu sejumlah tim sampai sekarang masih menghitung total kerugian akibat bencana yang meluluhlantahakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu.

“Kendala yang kita hadapi adalah data jumlah bangunan yang rusak dan hilang di daerah likuifaksi di Kelurahan Petobo dan Kelurahan Balaroa. Kita belum tahu berapa jumlah bangunan di sana yang kena likuifaksi sehingga kami belum bisa menyimpulkan total kerugian materialnya,” kata Presly.

Berbagai metode pengumpulan data lanjut Presly digunakan untuk menghitung jumlah bangunan yang rusak berserta nilai kerugiannya di antaranya penghitungan berdasarkan jumlah rumah yang terdata oleh Pemkot Palu maupun penghitungan data bangunan berserat nilai kerugian menggunakan metode geospasial.

“Misal di Kelurahan Petobo jumlah rumah yang terdata oleh Pemerintah Kota Palu antara 1.300 sampai 1.400 an rumah. Ternyata saat menggunakan data geospasial belum bisa menghitung secara persis. Saat ini masih terus kita kaji. Mudah-mudahan dalam waktu dekat data jumlah bangunan yang rusak dan nilai kerugiannya segera kita ketahui,” ujarnya.

Presly menerangkan dari berbagai jenis bangunan di Kota Palu, rumah paling banyak terdata mengalami kerusakan. Mulai dari rusak ringan, sedang hingga berat bahkan hilang akibat tsunami dan likuifaksi.

“Masih terus melakukan perhitungan segala kerusakan termasuk rumah penduduk, infrastruktur seperti jalan dan jembatan, gedung-gedung perkantoran milik Pemkot Palu dan gedung perkantoran milik pemerintah pusat yang ada di Palu,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said atau akrab disapa Pasha mengatakan tidak kurang 65 ribu bangunan di Kota Palu terdata mengalami kerusakan baik itu rusak ringan, sedang dan berat.

“Kalau bapak ibu lihat, hampir semua bangunan di Palu itu retak-retak. Hampir tidak ada yang tidak retak akibat gempa meskipun tingkat kerusakannya berbeda-beda,” kata Pasha saat menerima kunjungan Persatu Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bekasi di rumah jabatan Wakil Wali Kota Palu Sabtu (8/12) siang

Exit mobile version