DaerahPolitik Pemerintahan

63 Desa Di Touna Sudah Membentuk BUMDes 

Touna, Satusulteng.com – Sebanyak 63 desa dari 134 desa yang tersebar di 12 Kecamatan kabupaten Tojo Una-una (Touna) telah membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sedangkan sisanya masih dalam proses pembentukan.

Hal itu diungkapkan oleh Sekertaris Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahah Desa (BPM-PD) Touna, Andi Dalfia Lahay kepada media ini, Jumat (14/10/2016).

Dikatakannya, dari 63 desa yang telah membentuk BUMDes terbanyak bergerak di bidang jasa  seperti simpan pinjam, penyewaan tenda dan kursi, depot air minum tokoh tani, jual beli hasil bumi,dan peternakan.

“Sementara desa yang belum memiliki BUMDes masih dalam proses menunggu dana desa turun karena Sebagian dana Desa nantinya berapa persen akan dipergunakan untuk pembentukan BUMDes,” kata Andi Dalfia.

Menurut dia, sesuai Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengisyaratkan konsep untuk mendorong percepatan dan pengembangan ekonomi desa dari daerah pinggiran dilakukan melalui penguatan kelembagaan atau BUMDes.

“Pembentukkan BUMDes di suatu kawasan sangat strategis terutama dalam upaya mendorong percepatam peningkatan dan pengembangan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Dia mengungkapakan, perkembangan jumlah BUMDes masih rendah hanya mencapai 63 unit dari 134 desa se-Kabupaten Touna atau hanya 47 persen.

Hal itu di karenakan kurangnya pengetahuan pengurus (komisaris, direksi, dan kepala unit usaha) dalam manajemen BUMDes sehingga mengakibatkan kinerja kelembagaan BUMDes dalam pengembangan usaha menjadi kurang optimal,” ungkapnya.

Olehnya, kata dia, BPM-PDTouna merasa sangat berkepentingan dan ikut bertanggungjawab untuk merubah paradigma melalui peningkatan wawasan serta pemahaman aparat desa terkait.

Maka, melalui bimbingan teknis dan supervisi yang dilaksanakan BPMPD dengan melibatkan kepala desa, Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) serta pengelola atau pelaku usaha agar terbangun pemahaman dan visi yang sama dalam pengembangan BUMDedBUMDes,” tutupnya.

yahya lahamu
the authoryahya lahamu